Dibalik senyum seorang anak



Cerita kali ini masih seputar kisah yang sama which is tentang anak-anak di sekolah tempat gue mengajar. Sebagai guru, gue lebih suka manggil mereka dengan sebutan 'anak-anak' ketimbang 'murid' alasannya karena di mata gue mereka itu masih terlihat sebagai anak kecil yang perlu tumbuh, butuh kasih sayang, dan haus akan dimengerti. Ketimbang 'murid' yang maknanya lebih ke seseorang yang harus gue didik atau sebatas mengajar mereka di kelas. Alasan lainnya gue menyebut mereka dengan sebutan 'anak-anak' juga karena gue masih ingin berusaha membantu mereka untuk tumbuh, jadi manusia yang memahami diri dan perasaannya, supaya mereka menjadi manusia yang kuat. Caelah bu #Sokbaik. 

Intinya begitu lah ya, mungkin gue gengsi aja kalo sebenernya pengen bilang kalo sebagai perempuan yang nanti akan jadi super mom gue suka dan sayang sama anak-anak. Makanya gue menulis alasan-alasan yang sok puitis kayak diatas. 

Back to the topic, karena kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum merdeka, jadinya di setiap sekolah pasti ada agenda P5 atau semacam project yang harus dikerjain sama anak-anak dan tujuannya supaya mereka punya karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Setiap sekolah melaksanakan P5 dengan alur yang berbeda-beda, ada yang dilakuin satu minggu full dan ada juga yang dilakukan di satu hari tertentu setiap minggunya. Di sekolah tempat gue ngajar aktivitas P5 ini dilakuin satu minggu full sesuai dengan bulan yang udah ditetapin, dan itu jatuh pada hari ini. 

Menurut gue pribadi, project P5 ini kurang efektif kalo memang tujuannya untuk membentuk karakter. Kenyatannya, mereka lebih memaknai hari-hari project sebagai ajang buat jamkos karena setelah mereka selesai ngerjain LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) mereka cuman gabut aja dikelas seakan-akan gaada pembelajaran. Anak-anak juga gue rasa gak paham sama apa yang mereka kerjain di LKPD. Gimana engga paham coba, orang ngerjainnya aja sebatas nyalin jawaban yang ada di internet. Makanya itu, menurut gue P5 ini cuma buang-buang waktu dan anggaran buat ngeprint LKPD anak-anak satu sekolahan yang berlembar-lembar dan kurang ngasih pemahaman yang 'nempel' di karakter anak. 

Kalo gue boleh saran..ya boleh lah ya, kan gue mau nulis nih #Maksa. Seharusnya guru juga harus berperan aktif untuk menekankan ke murid kalo projcet ini serius dan penting buat dilakuin. Misalnya, guru dan murid harus berpartisipasi dan kolaboratif. Guru juga gak boleh ngegampangin, harus giat, harus berhasil numbuhin semangat dan minat yang besar dari dalam diri anak-anak terkait project P5 ini. Terus coba deh, project disini harus aktivitas yang benar-benar ngelakuin project lalu dipresentasikan dan diapresiasi. Dari langkah itu, mungkin bisa jadi pengalaman yang berkesan bagi anak dan akhirnya nempel di dalam memori mereka. 

EH IYA, kan tadi gue mau cerita anak-anak ya, kenapa gue jadi over sharing versi serius gini sih. Jadi begitu, karena minggu ini adalah jadwalnya P5 gue tadi masuk kelas cuma cerita-cerita aja sama anak-anak. 

Kalo boleh jujur nih ya, jauh sebelum gue merasakan pengalaman ngajar dikelas gue punya prinsip untuk gak mau terlalu terbuka sama anak murid. Misalnya dengan gak membiarkan mereka tau medsos gue, tau kontak gue, serta membuka diri dalam sesi cerita, apalagi yang deep pliss ini yang paling gue hindari. Alasannya karena gue bukan tipikal orang yang suka ngurusih hidup orang lain, gak mau ribet and it will drain my energy soo much. 

Karena gue percaya, semakin banyak lo tau suatu hal maka akan semakin besar pula potensi bahwa lo akan mendapatkan masalah, apapun bentuknya. 

Faktanya, jadi guru jaman sekarang gak bisa kalo lo gak menjadi sosok yang terbuka. Pendekatan sama mereka itu sulit kalau elo terlalu haus untuk dihormati. Arti hormat yang sesungguhnya di mata mereka itu berbeda dengan kebanyakan guru yang mungkin pikirannya masih 'hormat' kayak seseorang yang harus disegani. 

Menurut gue, mereka akan menghormati lo dengan sendiri nya kalo elo udah ngelewatin beberapa hal, pertama mereka bisa ngasih kepercayaan ke elo. Kedua, lo bisa memahami karakter mereka yang serba santai, gak jauh-jauh dari jedag-jedug dan semacamnya. Lalu yang terakhir ketika mereka udah cerita hal-hal yang personal ke elo. Dari sinilah, prinsip gue barusan jadi gak berlaku sepenuhnya lagi karena di kelas gue butuh kemampuan untuk lebih mengenal mereka. 

Dikelas ada beberapa anak yang udah mulai terbuka sama gue. Semua ini berawal dari cerita cinta-cintaan mereka yang hanya sebatas butuh untuk divalidasi dan saran dari seseorang. Tapi anehnya, sesi kali ini beda dari biasanya karena mereka nyeritain tentang keluarga. Mereka bercerita tentang bagaimana mereka tumbuh di dalam keluarga, perasaan bahagia yang didapat dan juga rasa sakitnya. 

Kebanyakan dari mereka yang datang adalah mereka yang pernah retak lalu berusaha memperbaiki lagi. Beberapa dari mereka tumbuh dari keluarga yang kurang sempurna atau berusaha untuk menjadi baik. Bagi mereka, disetiap waktu yang berjalan ada hari-hari dimana mereka pasti merasakan hidup dalam kekerasan dan penganiayaan. Orang tua yang tempramen dan selalu menggunakan kekerasan fisik sudah menjadi mimpi buruk harus diterima. 

Itu semua gak mudah karena mereka hanyalah seorang anak. Sosok baru bagaikan sebuah tunas yang perlu disirami dengan air yang baik dan rentetan hal-hal baik lainnya. Ketika mereka menceritakan pengalamannya, lalu gue memberikan pendapat yang mungkin menyentuh rumah kecil mereka, tangis anak-anak itu pecah. 

Kaget dong gue, ya.. gimana engga ya.. gue gatau harus nenangin mereka gimana. Gue udah panik duluan takut dikira macem-macem karena bikin nangis anak orang. Dan juga karena sebetulnya gue bukan orang yang bisa dengan mudahnya ngeluarin bentuk kepedulian gue lewat pelukan buat seseorang. 

Lalu ketika gue tanya, "eh ya ampun, kamu kok nangis, saya takut dikira macem-macem." Dia cuma senyum, menghapus air matanya, dan bilang terima kasih karena udah mengerti dia. 

Sebenernya gaada kata-kata spesial yang gue kasih ke mereka sih. Satu hal yang cuma gue tekankan bahwa diri kita ini penting. Kita berhak untuk berjuang, berhak untuk menolak rasa sakit, dan berhak pula untuk merasa bahagia. Untuk itu, kita gaboleh kehilangan diri kita sendiri, kita harus sebisa mungkin menjaga dan merawat diri kita sendiri layaknya pasangan yang saling jatuh cinta.  

Ganyangka deh gue kalo cerita-cerita kayak ini datang ke hidup gue. Gak pernah terbayangkan juga kalo pengalaman pkm bisa lebih dari sekedar mengajar di kelas. Sisi positifnya berkat kejadian ini juga bikin gue jadi lebih mengasah empati dan perasaan gue lainnya. 

Pesan gue untuk semua anak-anak yang sedang tumbuh, jangan pernah berhenti berjuang untuk hidup yang lebih baik. Semoga, rasa sakit yang pernah kalian rasain akan menjadi opium yang berkali-kali lipat menghidupkan kamu kembali disaat kamu merasa bahwa nafas mu akan berhenti. 



Komentar

Postingan Populer