Sosok sang Ego


“Kenapa harus menjauh?” tanya Raka, tegas.

“Ya… gue kan harus menjaga perasaan cowo gue nanti” Jawabnya, dengan tatapannya yang sinis. Tampa memberikan jeda Dara menambahkan lagi kalimatnya,

“Gue juga nanti gak akan cerita sama lo lagi. Buat apa gue punya pasangan tapi gak bisa jadi tempat pulang, tempat cerita dan tempat buat gue berkeluh kesah.” Timpal Perempuan itu.

Perkataannya juga seakan dijadikan sindiran keras bagi Raka supaya ia sadar akan posisinya yang saat ini sudah memiliki pasangan, tetapi tetap saja menjadikan Dara sebagai pilihan pertamanya dalam bercerita banyak hal. Raka terlihat muram dan ekspresi wajahnya seakan-akan sedang mencari alasan supaya Perempuan itu tetap bisa berada disisinya.

“Nanti gue ngomong sama cowo lo, kita berdua cuma temenan jadi gaperlu cemburu kalo lo ngobrol sama gue”

Dara kebingungan kenapa jawaban Raka seakan-akan menunjukan prilaku yang egois. Tidak mau kehilangan, tetapi juga tidak pernah memberikan kepastian saat dulu Dara sangat berharap padanya. Pikirannya masih berusaha memproses ketidak percayaan setelah mendengar jawaban dari sahabatnya.

“Gue rasa kita gabisa kayak gini terus deh, Ka…”

“Kayak gini gimana maksud lo?”

“Sikap lo yang egois ini. Perilaku lo yang semena-mena dan merasa kalo gue akan terus ada buat lo”

“Emangnya lo gabisa kalo terus ada di sisi gue, Dar?”

Sinting, tidak habis pikir mendengar jawaban Raka yang memang egois. Hal itu membuat Dara semakin penasaran kenapaa Raka tidak bisa melepaskannya. Bertahun-tahun perempuan itu hidup dari bayang-bayang Raka. Tidak pernah merasa dilihat sebagai kebanyakan perempuan di mata Raka.

“Gue harus cari kebahagiaan gue sendiri, Ka. Plis lepasin gue ya?” dengan nada yang memohon Dara memberanikan diri dihadapan Raka.

“Emangnya selama ini lo enggak Bahagia temenan sama gue ya, Dar?” sambil menatap mata Chika dengan tatapannya yang sendu.

“Gimana emang cara lo ngebahagiain gue selama ini. Dimana letak gue dihidup lo, ka?” jawabannya sambil menahan air mata. “Lo selalu ngasi gue kebahagiaan, tapi lo selalu nempatin gue dibawah angan-angan. Lo gapernah berani buat ngasi gue kepastian.” Sambungnya dengan nada yang mulai gemetar.

“Gue takut kehilangan lo, Dara. Lo jauh lebih berharga dari siapapun yang pernah hadir di hidup gue. Plis, jangan tinggalin gue dar”

Kalimat itu seakan menjadi penutup bagi ketegangan keduanya. Raka langsung menarik Chika yang berada dihadapannya untuk berada dalam dekapannya. Chika hanya terdiam tidak percaya sambil menahan air matanya, sementara Raka meneteskan air mata sambil memeluk erat perempuan itu.

Komentar

Postingan Populer