Matahari menjadi saksi


Suasana langit berwarna gradasi kuning dan orange membuat sore itu terasa sejuk dan hangat. Angin sepoi-sepoi khas dari suasana sore manambah rasa tenang. Tak ada suara bising yang meganggu disana, hanya suara dedaunan diantara pohon berderet yang saling bergesekan karena hembusan angin dan sesekali suara burung meskipun samar karena ia terus terbang kesana kemari.

Dibawah langit yang senja itu, ada dua insan yang sedang duduk di tepi lapangan luas beralaskan rumput usang. Canda gurau telah menghidupi interaksi mereka berdua. Setiap tawa yang keluar, mata yang saling menatap, perasaan yang saling memahami, membuat keduanya terlihat serasi dimata orang-orang sekitar.

Sayang saja mereka yang menonton tidak tahu keadaan aslinya seperti apa. Ada perasaan yang saling dipendam, entah apa isinya itu. Tetapi mereka tidak mengharaukan perasaan yang disimpan di masing-masing hati. Menurut mereka hubungan persahabatan ini lebih berarti diatas segalanya. Sehingga, sangat sulit untuk keduanya mengutarakan perasaannya masing-masing meskipun kesempatan itu hanya sesaat.

Namun, sepertinya kali ini berbeda. Ada sesuatu yang perempuan itu ingin sampaikan. Entah apa yang menjadi jawabannya kelak, tapi disinilah ia akan menghentikan penantiannya yang sudah bertahun-tahun. Sambil mendengarkan suara laki-laki itu yang sedang bercerita, kepalanya berisik dengan perasaan yang ingin disampaikannya saat itu. Di detik-detik terakhir ia ingin menyampaikannya, tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya berhenti dan sontak ia meyela pembicaraan mereka.

“Lo sekarang sama chika...?”

Tanya si perempuan sambil menatapnya tidak percaya. Lalu laki-laki itu menjawab dengan nada yang pelan tetapi tidak menatap mata Perempuan itu.

“Iya”

Jawaban itu bagaikan petir di siang bolong. Tiba-tiba saja tangannya terasa berat, mata yang mulai memanas dan ditakutkan akan mengeluarkan air mata membuatnya tak sanggup menunjukan wajahnya di depan laki-laki itu, lalu ia menunduk.

“Sejak kapan? Kok lo gak pernah bilang ke gue?”

“Sejak gue ajak nonton match futsal”

“Oh…”

Sejak saat itu perempuan itu menjadi lebih diam. Mereka berdua hanya saling memainkan ranting kecil yang berserakan dengan sampah dedaunan di lapangan itu. Dan akhirnya sunset itu menjadi saksi dari kisah mereka berdua, bahwa sesuatu yang belum tersampaikan memang belum waktunya. Sehingga, keadaan ini tetap berlanjut dan belum juga mencapai titik terang.

 

Komentar

Postingan Populer