Pesan Kepada Orang yang Tidak Mengurus Diri
Rindu itu wajar.
Tapi setuju gak sama statment kayak gitu?
Belakang ini gue lagi notice sama beberapa hal dalam diri gue. Bermula pada saat malam hari, gue lagi scrolling galeri di handphone. Hal biasa sih, gue cuma mau liat-liat foto aja karena gabut.
Mungkin yang akan terfikirkan di benak kalian kalau seseorang buka galeri foto itu karena lagi kangen sesuatu. Mungkin juga karena ingin mengenang sesuatu. Ada benernya juga sih. Tapi dari situ, gue jadi notice beberapa hal.
Ketika gue lagi scrolling dan tangan gue berhenti scroll tepat di foto-foto yang gue ambil di bulan Juni. Tampa sadar gue senyum sendiri. Lalu, raut wajah gue yang senyum seketika berhenti dan berganti dengan ekspresi sedih.
Alasan gue senang karena foto-foto yang gue ambil di bulan Juni itu karena udah berhasil menunjukan ekspresi wajah gue yang cerah, bahagia, penuh semangat dan termotivasi. Kalo gue flashback, saat itu kegiatan gue lagi super padat. Gue lagi banyak running proker. Kegiatan yang gue ikutin gak hanya satu proker aja, kayaknya sih ada sekitar 2 sampai 3. Kegiatan gue dibulan itu juga ditambah lagi sama agenda rutin yang udah seharusnya jadi tanggung jawab gue selama megang advokasi.
Jujur, saat itu, bulan itu, kegiatan yang gue lakukan super padat. Dalam seminggu gue hampir tidak menemukan hari dimana hari itu gue bisa seharian full beristirahat. Bulan itu adalah bulan yang sangat hectic. Handphone gue yang terus berdering berisik. Notifikasi grup Whatsapp yang terus-menerus datang hingga akhirnya ngebuat gue burn out. Gue saat itu sampe pernah loh terfikir "Gue mau ngilang beberapa hari dulu deh kayaknya... butuh istirahat..." Kala itu gue beneran merasa capek fisik dan otak.
Tetapi anehnya, semua hal-hal berat yang gue lalui di bulan itu gak sepenuhnya memusingkan ketika dilihat saat ini. Sekarang, berkat ke hectic-an di bulan itu membuat gue sadar akan beberapa hal. Lalu, hal-hal yang gue sadari itu juga berkaitan sama kecemasan gue dihari ini.
Hari ini gue sadar kalau gue mulai tidak memperhatikan diri gue dengan semestinya dan selayaknya. Gue menjadi pribadi yang tidak memperhatikan penampilan. Gue acuh dan cuek. Gue merasa tidak mengurus diri gue dengan baik karna jam tidur gue yang jadi berantakan, lalu gue juga jadi gapernah olahraga. Pola makan gue yang saat ini berantakan. Stress sedikit langsung makan, nyemil dan sebagainya. Akhirnya, pola makan gue gabisa dikontrol dan ngebuat berat badan gue naik gak wajar.
Awalnya gue terpuruk setelah sadar akan hal itu. Meskipun gue tau kalau hidup itu seperti roda berputar dan fase ini gak akan selamanya. Tapi fase ini gak mudah untuk gue terima dan lalui.
Biasanya gue lakuin beberapa langkah ini supaya bisa nemukin kunci yang nantinya akan ngebawa gue pada solusi dari permasalahan gue. Langkah pertama, gue harus menerima kondisi gue. Langkah kedua, gue harus memahami kondisi gue. Lalu terkahir, setelah kedua langkah itu sudah berhasil gue lalui, gue yakin pasti akan ketemu juga sama celah masalahnya.
Dari kasus yang lagi gue alami saat ini. Melalui menulis kayak sekarang. Tampa kalian sadar hal ini tuh menjadi salah satu jalan menuju kunci untuk menyelesaikan masalah gue. Kalian sadar gak sama hal itu?
Dengan sharing pengalaman dan perasaan yang gue rasain saat ini memberikan arti bahwa gue sudah menerima apa yang sedang gue alami. Melalui cerita yang gue sampaikan melalui tulisan ini kepada kalian menunjukan kalau gue sudah memahami masalah yang sedang gue hadapi. Lalu terakhir, sampailah kepada celah masalah yang ada sama kasus yang lagi gue alamin saat ini.
Jawabannya adalah gue hanya perlu kegiatan yang nyata. Hah, maksudnya gimana?
Okey, jadi gini. Coba kita berkaca dengan kejadian di bulan Juni. Pada bulan itu meskipun gue merasa hectic, capek, dan tidak ada waktu istirahat karena jadwal gue yang super padat, gue merasa diri gue lebih hidup. Dengan adanya kegiatan secara tidak langsung menekan diri gue untuk senantiasa membuat gue harus memperhatikan diri gue juga.
Contohnya gini, ketika gue diharuskan untuk ke kampus setiap hari. Otomatis kan gue harus ketemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Enggak hanya dengan orang-orang yang sebelumnya dekat dengan gue, tapi di beberapa waktu yang gabisa kita kontrol kita juga akan dipertemukan sama orang-orang lainnya. Misalnya orang dijalan dan sebaginya. Hal itu yang ngebuat kitasecara tidak langsung merasa tertekan sehingga akhirnga mempersiapkan diri untuk merasa pantas dan sesuai.
Ternyata tidak serumit itu ya, hahaha. Fase gue yang saat ini karena gue tidak memiliki banyak kegiatan nyata. Saat ini akhir tahun. Sudah akhir semester pula membuat kegiatan perkuliahan gue tidak banyak membutuhkan keharusan untuk datang ke kampus. Ditambah lagi, saat ini udah memasuki akhir peride di BEM.
Dikarenakan semua alasan dan kondisi itu membuat gue saat ini tidak banyak memiliki kegiatan yang nyata. Gue tidak banyak berinteraksi secara langsung dengan banyak orang. Mungkin hanya orang-orang yang ada di rumah gue saja seperti mama, wawa, dan ayah. Sehingga diri gue tidak tertekan untuk mempersiapkan kondisi atau penampilan yang sesuai dan semestinya.
Tidak terasa kita sampai pada akhir tulisan. Bahwa kesimpulannya gue hanya butuh mencari kegiatan-kegiatan yang sifatnya nyata. Dengan bertemu langsung dengan orang banyak membuat diri gue terasa lebih hidup dan bahagia.

.png)

Komentar
Posting Komentar